Etika Berinternet Dalam Hukum Indonesia - Flip eBook Pages 1-8 (2022)

ETIKA

BERINTERNET

DALAM HUKUM

INDONESIA

Internet merupakan kepanjangan dari Interconection Networking atau juga telah
menjadi International Networking merupakan suatu jaringan yang
menghubungkan komputer di seluruh dunia. Internet pertama kali dikembangkan
oleh salah satu lembaga riset di Amerika Serikat, yaitu DARPA (Defence
Advanced Research Projects Agency) pada tahun 1973. Saat ini penggunaan
internet sendiri sangat mudah dijangkau oleh berbagai kalangan masyarakat.
Internet juga memberikan berbagai dampak penting dalam aspek kehidupan,
seperti :

a. Informasi di Internet dapat diakses 24 jam
b. Biaya relatif murah dan bahkan gratis
c. Kemudahan akses informasi dalam melakukan transaksi
d. Kemudahan membangun relasi dengan pelanggan
e. Materi dapat di update dengan mudah
f. Pengguna internet telah merambah ke segala penjuru dunia.

Dengan banyaknya pengguna Internet yang berasal dari berbagai negara,
budaya, bahasa yang berbeda-beda tentunya masing-masing pribadi anggotanya
punya sifat, cara bicara, cara menulis, dan rasa humor yang berbeda-beda pula.
Yang perlu diperhatikan juga adalah banyak pengguna Internet tersebut yang
merupakan orang baru (‘Newbies’) di Internet. Seperti layaknya sebuah negara
yang punya masyarakat yang beragam, tentunya ada anggota masyarakat yang
baik dan ada juga yang sebaliknya atau sekedar iseng. Bentuk keisengan yang
sering kita jumpai adalah pengiriman surat berantai, iklan yang tidak sesuai
dengan konteks, provokasi ke diskusi yang tidak sehat, materi yang menyinggung
orang lain atau yang lebih ekstrim.

Ketidaksadaran akan adanya etika tidak tertulis dalam berinternet dan kekurang
kedewasaan dalam penggunaan email, chatting, dan mailing list dapat menyeret
para penggunanya kepada situasi yang tidak sehat jika salah satu pihak tidak
mengerti budaya di Internet. Untungnya, petunjuk itu telah dibukukan oleh sebuah
kelompok kerja yang diberi nama Responsible Use of the Network (RUN) Working
Group yang merupakan bagian dari The Internet Engineering Task Force (IETF),
dan telah dimasukkan dalam dokumen RFC yaitu RFC1855 Netiquette
Guidelines. Petunjuk itu dikenal dengan Nama Netiquette atau diterjemahkan
dalam Bahasa Indonesia menjadi Netiket. Kebanyakan pengguna teknologi tidak
peduli dengan etika penggunaan teknologi, tetapi terus menggunakannya
tanpa mengetahui dan mengabaikan peraturan dan tatakrama. Sering kali

1

pengguna teknologi lupa bahwa walaupun dalam dunia digital berinteraksi tanpa
bertatap muka, sesuatu yang melanggar kesopanan apabila menyinggung
perasan orang lain. Etika digital dibuat untuk menjaga perasaan dan keselesaan
pengguna lain. Namun, peraturan dan dasar yang diwujudkan tidak cukup
sekiranya tidak diajarkan/dilatihkan dalam menjadikan masyarakat sebagai
warganegara digital yang bertanggungjawab. Dengan demikian sudah waktunya
masyarakat pengguna internet (warganet/netizen) memahami etika dalam
menggunakan internet sebagai media komunikasi antar warganet lainnya. Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan etika sebagai “ilmu tentang apa
yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak)”.
Etika sering disebut juga dengan “etiket” (étikét), yaitu “tata cara (adat sopan
santun, dsb) dl masyarakat beradab dl memelihara hubungan baik antara sesama
manusianya” (KBBI). Dalam bahasa “sederhana” kita bisa memaknai etika
komunikasi dengan “sopan-santun atau tatakrama dalam berkomunikasi” atau
“cara berkomunikasi yang baik”.

Etika Internet (netiquette, netiket kependekan dari “network etiquette” atau
“Internet etiquette”) adalah “sopan-santun dalam berkomunikasi di internet, seperti
dalam chating, kirim pesan, menulis status facebook, “berkicau” di twitter, menulis
di blog (website), dan berkomentar di media online (situs berita)”. Dapat pula
dipahami sebagai “adab pergaulan di dunia maya”. Etika Internet pada dasarnya
sama dengan etika berkomunikasi di “dunia nyata” dalam kehidupan sehari-hari,
seperti jujur, menggunakan kata-kata yang baik (sopan), ramah, serta berbicara
jelas dan mudah dimengerti

Perkembangan internet yang begitu pesat menuntut dibuatkannya aturan–
aturan atau etika beraktifitas di dalamnya. Berikut ini adalah beberapa alasan
pentingnya etika dalam menggunakan internet:
a. Pengguna internet berasal dari berbagai negara yang memiliki budaya, bahasa
dan adat istiadat yang berbeda.
b. Pengguna internet merupakan orang yang hidup dalam anonymouse, yang
mengharuskan pernyataan identitas asli dalam berinteraksi
c. Bermacam fasilitas di internet memungkinkan seseorang untuk bertindak
etis/tidak etis
d. Harus diperhatikan bahwa pengguna internet akan selalu bertambah setiap
saat yang memungkinkan masuknya ‘penghuni’ baru. Untuk itu mereka perlu
diberi petunjuk agar memahami budaya internet.

2

Berikut adalah Etika dalam berinternet :

1. Perhatikan dalam penggunaan huruf kapital
Dalam penulisan suatu informasi penggunaan huruf kapital harusalah
diperhatikan. Jangan menggunakan huruf kapital sembarangan. Karena
penggunaan huruf kapital yang tidak tepat dapat disalah artikan oleh para
pengguna internet lainya. Misalnya pengguanaan huruf kapital yang tidak tepat
mencerminkan seseorang yang sedang marah.biasanya penggunaan huruf
kapital digunakan untuk sebuah singkatan atau nama sebuah badan atau
organisasi.

2. Hati-hati terhadap informasi yang kita terima
Lewat internet kita bisa mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya. Baik itu
spam, berita hoax dan lain-lain. Untuk itulah coba cari referensi sumber berita
yang terpercaya. Atau carilah sumber informasi lainya jika anda ingin mengetahui
apakah informasi yang anda terima itu benar atau tidak.

3. Penggunaan “CC” di e-mail
Sebagaian dari pengguna e-mail bisa jadi orang yang awam yang kurang paham
atau jarang sekali menggunakan e-mail. Jika orang tersebut adalah anda, maka
jangan mencantumkan nama-nama pada kolom “CC” pada form pengiriman e-
mail. Karena jika melakukan hal tersebuta semua orang yang menerima e-mail
anda bisa melihat alamat-alamat e-email orang lain.untuk itu gunakan selalu
“BCC” agar setiap orang bisa melihat emailnya sendiri.

4. Batasi informasi yang kita sampaikan
Sebagai pengguna internet yang baik kita wajib dapat membatasi informasi apa
saja yang boleh dan tidak boleh di sebarkan dalam internet, yang di maksud boleh
tau tidak dalam hal ini adalah hal yang bersifat privasi individu diri sendiri atau
orang lain yang menyebabkan pencemaran nama baik secara individu maupun
kelompok.karena internet dapat di akses oleh semua kalangan hendaknya kita
dapat memilah-milah informasi mana saja yang layak dan tidak untuk di sebarkan
agar tidak menimbulkan perselisihan di kemudian hari

5. Hindari personal attack
Sering kali dalam forum dunia maya terdapat debat-debat antar sesama
pengguna internet. Terkadang haltersebut bisa memanas hingga kosa kata yang

3

disampaikan tidak sopan. Meski begitu jangan sekali-sekali menggunakan
kelemahan lawan debat anda sebagai senjata anda untuk memenangkan debat,
karena hal tersebut akan menunjukkan bahwa betapa dangkalnya pengetahuan
anda.

6. Pemilihan konten internet dengan bijak
Dalam dunia maya atau dunia internet terdapat banyak sekali informasi-informasi
yang mempunya konten positif dan negatif, hendaklah kita sebagai pengguna
internet dapat menggunakan dengan bijak, yaitu dengan cara memanfaatkan
secara positif tidak mengakses konten yang berbau sara dan pornografi.

7. Hak cipta
Dalam penggunaan internet hendaklah kita selalu meenghargai hak atas
kekayaan intelektual (HAKI). Artinya jangan terlibat dalam aktivitas
pencurian/penyebaran data dan informasi yang memiliki hak cipta

Seiring dengan meningkatnya pengguna internet, khususnya media sosial,
bermunculan banyak kasus terkait informasi dan transaksi elektronik. Di Indonesia
hal-hal mengenai penggunaan internet khususnya terkait informasi dan transaksi
elektronik mempunyai peraturan perundang-undangan yang mengatur hal
tersebut. Peraturan mengenai penggunaan teknologi informasi dan komunikasi
diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan
Transaksi Elektronik (UU ITE). UU 19 Tahun 2016 merupakan perubahan atas
UU Nomor 11 Tahun 2008. Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 berisi tentang
aturan informasi dan transaksi elektronik di Indonesia. Di dalam Undang-Undang
ini dijelaskan hal-hal apa saja yang dilarang dan sanksi yang diterima apabila
melanggar.

Larangan terhadap penggunaan informasi dan transaksi elektronik dalam
undang-undang termuat dalam pasal 27 - 37 UU ITE. Berikut perbuatan yang
dilarang dalam UU ITE:

Mendistribusikan dokumen elektronik bermuatan asusila, perjudian,
pencemaran nama baik, pemerasan, dan pengancaman (pasal 27).
Mendistribusikan berita bohong atau hoax kepada masyarakat terkait suku,
agama, ras antargolongan (pasal 28).
Menyebarkan ancaman kekerasan atau menakut-nakuti (pasal 29).
Mengakses, mengambil, dan meretas sistem elektronik milik orang lain

4

dengan cara apapun (pasal 30)
Melakukan intersepsi atau penyadapan terhadap sistem elektronik milik orang
lain dari publik ke privat dan sebaliknya (pasal 31).
Mengubah, merusak, memindahkan ke tempat yang tidak berhak,
menyembunyikan informasi atau dokumen elektronik, serta membuka
dokumen atau informasi rahasia (pasal 32).
Mengganggu sistem elektronik (pasal 33).
Menyediakan perangkat keras atau perangkat lunak, termasuk sandi
komputer dan kode akses untuk pelanggar larangan yang telah
disebutkan(pasal 34).
Pemalsuan dokumen elektronik dengan cara manipulasi, penciptaan,
perubahan, penghilangan, dan pengrusakan (pasal 35)

Selain larangan dalam penggunaan informasi dan transaksi elektronik. UU juga
memuat sanksi yang menyertainya. Berikut sanksi dalam UU ITE:

Pasal 45 ayat 1: Hukuman pidana penjara paling lama enam tahun dan denda
maksimal Rp 1 miliar atas pendistribusian informasi elektronik bermuatan
asusila.
Pasal 45 ayat 2: Hukuman pidana penjara paling lama enam tahun dan denda
paling banyak Rp 1 miliar atas penyebaran berita bohong.
Pasal 45 ayat 3: Hukuman pidana penjara paling lama 12 tahun dan denda
maksimal Rp 2 milar atas ancaman penyebaran informasi elektronik
bermuatan ancaman kekerasan.
Pasal 46 ayat 1: Hukuman pidana penjara paling lama enam tahun dan denda
maksimal Rp 600 juta atas peretasan terhadap sistem elektronik milik orang
lain dengan cara apapun.
Pasal 46 ayat 2: Hukuman pidana penjara paling lama tujuh tahun dan denda
maksimal Rp 700 juta atas peretasan terhadap sistem elektronik di lingkungan
pemerintah atau pemerintah daerah.
Pasal 46 ayat 3: Hukuman pidana penjara paling lama delapan tahun dan
denda maksimal Rp 800 juta atas penerobosan atau penjebolan terhadap
sistem pengamanan komputer.
Pasal 47: Hukuman pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda maksimal
Rp 800 juta atas penyadapan sistem elektronik milik orang lain.
Pasal 48 ayat 1: Hukuman pidana penjara paling lama delapan tahun dan
denda maksimal Rp 2 miliar atas pengrusakan dokumen elektronik milik orang
lain.

5

Pasal 48 ayat 2: Hukuman pidana penjara paling lama sembilan tahun dan
denda maksimal Rp 3 milar atas pemindahan atau mentransfer informasi
elektronik kepada orang lain yang tidak berhak.
Pasal 48 ayat 3: Hukuman pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda
maksimal Rp 5 miliar atas perbuatan membuka akses informasi elektronik
yang sifatnya rahasia.
Pasal 49: Hukuman pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda maksimal
Rp 10 miliar atas perbuatan mengganggu kinerja sistem elektronik.
Pasal 50: Hukuman pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda maksimal
Rp 10 miliar atas perbuatan memfasilitasi perangkat keras maupun perangkat
lunak untuk pelaku pelanggaran.
Pasal 51: Hukuman pidana penjara paling lama 12 tahun dan denda maksimal
Rp 12 miliar atas pemalsuan dokumen elektronik.

Hadirnya UU ITE sudah cukup komprehensif untuk mengatur informasi
elektronik dan juga transaksi elektronik. Hal tersebut bisa kita lihat dari beberapa
cakupan materi yang ada di dalam UU ITE yang mana merupakan terobosan
baru. Berbagai hal yang belum diatur di dalam UU ITE, akan diatur didalam
Peraturan Pemerintah dan juda peraturan perundang-undangan lain. Adanya
peraturan ini membuat setiap masyarakat dapat berhati-hati dan
memepertanggungjawabkan penggunaan dari internet tersebut. UU ITE ini
bertujuan untuk menjamin kepastian hukum untuk masyarakat, salah satu upaya
mencegah adanya kejahatan yang dilakukan melalui internet, dan melindungi
masyarakat dan pengguna internet lainnya dari berbagai tindak kejahatan online.

6

Referensi

Alinurdin, A. (2019). Etika penggunaan internet (digital etiquette) di lingkungan
mahasiswa. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 6(2), 123-142.

Kurnia, N., Wendratama, E., Adiputra, W. M., & Poerwaningtias, I. (2019). Literasi
digital keluarga: Teori dan praktik pendampingan orangtua terhadap anak dalam
berinternet. UGM PRESS.

Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik.

Top Articles

Latest Posts

Article information

Author: Rev. Porsche Oberbrunner

Last Updated: 10/04/2022

Views: 5862

Rating: 4.2 / 5 (53 voted)

Reviews: 84% of readers found this page helpful

Author information

Name: Rev. Porsche Oberbrunner

Birthday: 1994-06-25

Address: Suite 153 582 Lubowitz Walks, Port Alfredoborough, IN 72879-2838

Phone: +128413562823324

Job: IT Strategist

Hobby: Video gaming, Basketball, Web surfing, Book restoration, Jogging, Shooting, Fishing

Introduction: My name is Rev. Porsche Oberbrunner, I am a zany, graceful, talented, witty, determined, shiny, enchanting person who loves writing and wants to share my knowledge and understanding with you.